Hati Mukmin Pasti Menangis

View previous topic View next topic Go down

Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by gsoumar on Wed Nov 19, 2008 3:24 pm

Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan
orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto,
pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar
tahanan. Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah
ketika 'algojo penjara' itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau
tidak, sepatu 'boot keras' milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu
akan mendarat di wajah mereka.


Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

"Hai... hentikan
suara jelekmu! Hentikan... !"

Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata.


Namun apa yang terjadi? Laki-laki dikamar tahanan tadi
tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang.
Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih
sekadar cukup untuk satu orang. Dengan marah ia menyemburkan ludahnya
ke wajah tua sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas
sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua
renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib... Tak terdengar
secuil pun keluh kesakitan.


Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak
untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana 'abduka... Tahanan lain yang
menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah
wahai ustaz... InsyaALlah tempatmu di Syurga."


Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh
sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak marahnya. Ia
memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh
orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.


"Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku
tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung
dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini
telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat
aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tidak
didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh.
Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami."


Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan
kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu
berucap,
"Sungguh... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat
menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di
puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut
kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku
termasuk manusia yang amat bodoh."


Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars
Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian
jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika
itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah
'buku kecil'. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang
Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.


"Berikan buku itu, hai
laki-laki dungu!"
bentak Roberto.


"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan
paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu
ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah
lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati.
Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa
bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo
penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah
mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan tua
itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran.
Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo
itu termenung.


"Ah... seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini."

Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto
membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu
bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku
itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun,
sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.


Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang
melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini
diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia
berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih
kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam
ingatan Roberto.


Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa
kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya
ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan
Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di
tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa
tak berdosa gugur di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa
puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang
terpancang tinggi. Tubuh mereka gelantungan tertiup angin petang yang
kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di
udara.


Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam
dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu
memasuki agama yang dibawa oleh para rahib. Seorang kanak- kanak
laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu
masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap.
Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Kanak kanak comel itu
melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang
gantungan. Perlahan-lahan kanak - kanak itu mendekati tubuh sang ummi
yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya.


Sang anak itu berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah
ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa... .? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi... "


Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang
ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu
apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.
Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi... Abi... Abi... "
Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat
petang kelmarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang
berseragam.


"Hai... siapa kamu?!" jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi... " jawabnya memohon belas kasih.

"Hah... siapa namamu budak, cuba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka. "Saya Ahmad Izzah... " dia kembali menjawab dengan agak kasar.
Tiba-tiba, Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil.


"Hai budak... ! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh.
Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik.
Namamu sekarang 'Adolf Roberto'... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu
yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan
kubunuh!"
ancam laki-laki itu.


Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan
air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar
lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama mereka.
Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke
arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat
pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu.
Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeria, "Abi... Abi... Abi... "


Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah
dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat
betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab
Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika
hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda
hitam' pada bahagian pusat. Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk
erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam
atas tingkah-lakunya selama ini.


Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh
tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha... "
Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya. Sang ustaz
segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi
wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang
tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya.


"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu... " Terdengar
suara Roberto meminta belas. Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk
berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang.
Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat
berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal.
Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.


Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. "Anakku,
pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa
engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy.
Belajarlah engkau di negeri itu,"


Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal
kalimah indah "Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah... '.


Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum,
setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini. Kini Ahmah Izzah
telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk
agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat
disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru
dengannya...


oleh: ArWa

gsoumar

Number of posts : 222
Registration date : 2008-05-04
Location : PUSJ

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by ibnu umair on Wed Nov 19, 2008 4:23 pm

sesunguhnya ramadhan telah memberikan madrasah berharga kepada gsoumar. kehadiran syawal tidak menggugat semangat ketaatannya kepada agama. syabas dan tahniah kpd gsoumar..

p/s
lama dah tak nampak subuh kat surau

ibnu umair

Number of posts : 136
Registration date : 2008-01-08

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by arip on Thu Nov 20, 2008 9:00 am

betul la. Sejak cuti sekolah ni, ramai yang dah cuti berjemaah solat subuh. Nak kata balik kampung, malam ada plak. Penat kot layan anak2 yang tgh bercuti

arip

Number of posts : 230
Registration date : 2007-12-16

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by gsoumar on Fri Nov 21, 2008 8:23 am

Alhamdulillah, rasa terharu juga dengan sahabat2 taman kita ini yang mengambil berat dan saling ingat mengingati. Semoga taman TPUSJ dilindungi oleh Allah dari sebarang musibah. Amiin..

"Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan berpesan-pesan dengan
kebenaran dan berpesan-pesan dengan kesabaran
" [Al-Asr: 1-3]

p/s
IR Umair mlm tadi ngeteh sampai jam berapa? he..he..

gsoumar

Number of posts : 222
Registration date : 2008-05-04
Location : PUSJ

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by Biro Dakwah on Fri Nov 21, 2008 9:13 am

Moga2 Allah SWT melindungi para imam2 dan jemaah kita dari godaan nafsu & syaitan2 yg senantiasa berusaha utk menyesatkan & melemahkan keturunan Bani Adam a.s.

Ya Allah, jauhkan lah kami dan lindungilah kami dari syaitan2 ( dan manusia2) yang ingin menarik kami supaya kami jauh dari rumah Mu, perintah Mu, dan dari perjuangan untuk menegakkan agama MU....Berikanlah kami petunjuk dan hidayah Mu, dan janganlah Engkau biarkan kami sesat setelah kami mendapat hidayah Mu ya Allah...Berikanlah kami teman2 yang baik dan yang merapatkan kami dengan jalan Engkau Ya Allah.... Amiin

Biro Dakwah

Number of posts : 110
Registration date : 2008-07-14

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by fendy5800 on Fri Nov 21, 2008 11:36 am

IR ibnu_umair, mlm ni badminton ada tak?

fendy5800

Number of posts : 511
Registration date : 2008-01-14
Age : 39
Location : No.27 Jln PUSJ 3/5

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by ibnu umair on Fri Nov 21, 2008 12:54 pm

tunggu kul 1030 kat umah. tak aku ambik mr LOBO ambik

ibnu umair

Number of posts : 136
Registration date : 2008-01-08

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by ibnu umair on Fri Nov 21, 2008 12:55 pm

alamak.. lari topik daaaa

ibnu umair

Number of posts : 136
Registration date : 2008-01-08

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by arip on Fri Nov 21, 2008 3:23 pm

Beriadhah tu menyihatkan badan & mencerdaskan akal.. tapi kalau sampai jam 2,3 pagi and sampai tinggal solat subuh berjemaah, itu hilang akal....

Game/Ngeteh Organiser, jadilah seperti teman yang seperti penjual minyak wangi.....bukan seperti tukang besi..

arip

Number of posts : 230
Registration date : 2007-12-16

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by ibnu umair on Fri Nov 21, 2008 5:09 pm

ni yang bagusnya bersahabat ngan yang diredhai
nasihat sentiasa di beri
insyallah bau wangi akan sentiasa dihidui
bukan bahang dari bara yang dirasai

ibnu umair

Number of posts : 136
Registration date : 2008-01-08

Back to top Go down

Re: Hati Mukmin Pasti Menangis

Post by Sponsored content Today at 7:52 am


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum